Alhamdulillah, bersyukur ke hadrat ALLAH TA'ALA kerana dengan limpah kurniaNYA maka Majlis Ta'lim Rahmatan Lil A'lamin telah selesai program ziarah maulid di sekitar kawasan Lembah Klang pada tahun 2013 (1434H). Pihak Majlis Ta'lim Rahmatan Lil A'lamin ingin mengucapkan setinggi perhargaan dan ucapan terima kasih kepada masjid-masjid dan surau-surau yang telah menjemput jemaah Majlis Ta'lim Rahmatan Lil A'lamin untuk program atau majlis maulid yang dianjurkan.
Semoga majlis maulid yang dianjurkan ini dapat menambah dan meningkatkan kecintaan dan mahabbah Rasulullah SAW. Marilah kita sama-sama untuk terus memperbanyakkan selawat ke atas Nabi junjungan kita Nabi Muhammad, Rasulullah SAW.
InsyaAllah, selepas ini Majlis Ta'lim Rahmatan Lil A'lamin yang dibimbing oleh Al-fadhil Ustaz Azahar Bin Hashim Al-Hadrami akan meneruskan pengajian kitab secara bersanad.
Untuk maklumat lanjut jadual pengajian boleh dirujuk di laman dibawah ini.
http://majlisrahmatanlilalamin.blogspot.com/p/majlis-ilmu.html
Selasa, 19 Februari 2013
Rabu, 31 Oktober 2012
Daurah Remaja RLA 2012
Tempat adalah terhad !!! Sila daftar segera untuk pengesahan !!!
Nota: Bayaran minima adalah untuk semua kos penginapan, makanan, minuman, rekreasi dan lain-lain kelengkapan daurah.
Selasa, 30 Oktober 2012
Rabu, 19 September 2012
Ahad, 8 Julai 2012
JADUAL DAKWAH HABIB KAZIM AL-SEQQAF, MALAYSIA 2012
JADUAL
DAKWAH HABIB KAZIm AL-SEQQAF, MALAYSIA 2012
TARIKH
|
MASA
|
PROGRAM
|
LOKASI/TEMPAT
|
9 JULY 2012
19 SYAABAN
ISNIN
|
7.30 MALAM
|
CERAMAH PERDANA RAMADHAN KARIM
|
SURAU AL- MUSTAQIM, JALAN AU5
C/8, LEMBAH KERAMAT, HULU KELANG SELANGOR
|
10 JULY 2012
20 SYAABAN
SELASA
|
7.30 MALAM
|
MAJLIS SEMARAK KASIH RASULULLAH
SAW & ISTIQBAL RAMADHAN
|
MATIN, PERLIS
|
11 JULY 2012
21 SYAABAN
RABU
|
8.30 MALAM
|
MAJLIS TA’LIM SAWA’ASSABIL
|
RIBAT AL-HAWI
NO.55 JALAN OPERA K, SEKSYEN
U2/K, TTDI JAYA, SHAH ALAM
|
12 JULY 2012
22 SYAABAN
KHAMIS
|
6.15 PETANG
|
PROGRAM QARIAH RAMADHAN
|
MASJID JAMEK ALAM SHAH, JALAN
PUDU, KUALA LUMPUR
|
9.15 MALAM
|
MAULED & MAJLIS MAHABBAH
AL-IIMI
|
SURAU NUR SHAFIEE USJ ½, SUBANG
JAYA, SELANGOR
|
|
13 JULY 2012
23 SYAABAN
JUMAAT
|
7.30 MALAM
|
CERAMAH PERDANA
|
MASJID AL-RIDHUAN HULU KELANG,
SELANGOR
|
10.00 MALAM
|
MAJLIS TA,LIM DARUL MURTADZA
|
MASJID MUADZ BIN JABAL,
SETIAWANGSA, KUALA LUMPUR
|
|
14 JULY 2012
24 SYAABAN
SABTU
|
6.45 PETANG
|
CERAMAH RAMADHAN KAREEM
|
MASJID AL-FALAH USJ 9, SUBANG
JAYA, SELANGOR
|
15 JULY 2012
25 SYAABAN
AHAD
|
9.00 PAGI
|
MAJLIS TA,LIM RAHMATAN LIL
A’LAMIN
|
NO.2 JALAN NOVA U5/74A SUBANG
BESTARI, SHAH ALAM, SELANGOR
|
12.00 T/HARI
|
MADRAS AN-NUR
|
SURAU NUR SHAFIEE USJ ½, SUBANG
JAYA, SELANGOR
|
Jumaat, 9 Disember 2011
Asma' binti Abu Bakar ra
Asma’ binti Abu Bakar ra sudah memeluk Islam sejak masa-masa awal datangnya Islam. Beliau adalah saudarinya ibunda Aisyah ra. Suatu waktu, ketika Rasullah SAW dengan Abu Bakar ra telah memerintah Zaid ra dan beberapa orang pegawainya untuk mengambil kudanya dan keluarganya untuk dibawa ke Madinah.
Asma ra berhijrah dengan rombongan tersebut. Sesampainya di Quba – dari rahim Asma ra – lahirlah putra pertamanya yakni Abdullah bin Zubair ra.
Dalam sejarah Islam, itulah bayi pertama yang dilahirkan setelah hijrah. Pada zaman itu banyak terjadi kesulitan, kesusahan, kemiskinan, dan kelaparan. Tetapi pada zaman itu juga muncul kehebatan dan keberanian yang tiada bandingannya. Dalam sebuah riwayat dari Bukhari diceritakan bahwa Asma’ ra sendiri pernah menceritakan tentang keadaan hidupnya,
"Ketika aku menikah dengan Zubair ra, ia tidak memiliki harta sedikit pun, tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan, dan juga tidak memiliki sesuatu apa pun. Hanya ada satu unta milikku yang biasa digunakan untuk membawa air, juga seekor kuda. Dengan unta tersebut, kami dapat membawa rumput dan lain-lainnya. Akulah yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tersebut. Aku sendirilah yang mengisi tempat air sampai penuh. Apabila embernya peceh, aku sendirilah yang memperbaikinya. Pekerjaan merawat kuda, seperti mencarikan rumput dan memberinya makan, juga aku sendiri yang melakukannya. Semua pekerjaan yang paling sulit bagiku adalah memberi makan kuda. Aku kurang pandai membuat roti. Untuk membuat roti, biasanya aku hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian kubawa kepada wanita tetangga, yaitu seorang wanita Anshar, agar ia memasakkannya. Ia adalah seorang wanita yang ikhlas. Dialah yang memasakkan roti untukku.
Ketika Rasulullah SAW sampai di Madinah, maka Zubair ra telah diberi hadiah oleh Rasulullah SAW berupa sebidang tanah, seluas kurang lebih 2 mil (jauhnya dari kota). Lalu, kebun itu kami tanami pohon-pohon kurma. Suatu ketika, aku sedang berjalan sambil membawa kurma di atas kepalaku yang aku ambil dari kebun tersebut. Di tengah jalan aku bertemu Rasulullah SAW dan beberapa sahabat Anshar lainnya yang sedang menunggang unta. Setelah Rasulullah SAW melihatku, beliau pun menghentikan untanya. Kemudian beliau mengisyaratkan agar aku naik ke atas unta beliau. Aku merasa sangat malu dengan laki-laki lainnya. Demikian pula aku khawatir terhadap Zubair ra yang sangat pencemburu. Aku khawatir ia akan marah. Memahami perasaanku, Rasulullah membiarkanku dan meninggalkanku. Lalu segera aku pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, aku menceritakan peristiwa tersebut kepada Zubair ra tentang perasaanku yang sangat malu dan kekhawatiranku jangan-jangan Zubair ra merasa cemburu sehingga menyebabkannya menjadi marah. Zubair ra berkata, "Demi Allah aku lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa isi-isi kurma di atas kepalamu sementara aku tidak dapat membantumu.""
Setelah itu Abu Bakar, ayah Asma’ ra, memberikan seorang hamba sahaya kepada Asma’. Dengan adanya pembantu di rumahnya, maka pekerjaan rumah tangga dapat diselesaikan dengan ringan, seolah-olah aku telah terbebas dari penjara.
Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq ra berhijrah, sedikit pun tidak terpikirkan olehnya untuk meninggalkan sesuatu untuk keluarganya. Ia berhijrah bersama-sama Rasulullah SAW. Untuk keperluan itu, seluruh kekayaan yang ia miliki, sejumlah lebih kurang 5 atau 6 dirham dibawa serta dalam perjalanan tersebut. Setelah kepergiannya, ayah Abu Bakar ra yakni Abu Qahafah yang buta penglihatannya dan sampai saat itu belum masuk Islam mendatangi cucunya, Asma ra dan Aisyah ra agar mereka tidak bersedih karena telah ditinggal oleh ayahnya. Ia berkata kepada mereka, "Aku telah menduga bahwa Abu Bakar ra telah menyebabkan kalian susah. Tentunya seluruh hartanya telah dibawa serta olehnya. Sungguh ia telah semakin banyak membebani kalian."
Menanggapi perkataan kakeknya(datuknya), Asma ra berkata, "Tidak, tidak wahai kakek(datuknya). Ayah juga meninggalkan hartanya untuk kami." Sambil berkata demikian ia mengumpulkan kerikil-kerikil kecil kemudian diletakkannya di tempat Abu Bakar biasa menyimpan uang dirhamnya, lalu ditaruh di atas selembar kain. Kemudian dipegangnya tangan kakeknya(datuknya) untuk merabanya. Kakeknya(datuknya) mengira bahwa kerikil yang telah dirabanya itu adalah uang. Akhirnya kakeknya(datuknya) berkata, "Ayahmu memang telah berbuat baik. Kalian telah ditinggalkan dalam keadaan yang baik." Sesudah itu, Asma ra berkata, "Demi Allah, sesungguhnya ayahku tidak meninggalkan harta sedikit pun. Aku berbuat demikian semata-mata untuk menenangkan hati kakek(datuknya), supaya kakek(datuknya) tidak bersedih hati."
Asma’ ra memiliki sifat yang sangat dermawan. Pada mulanya, apabila ia akan mengeluarkan harta di jalan Allah ia akan menghitungnya dan menimbangnya. Akan tetapi, setelah Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian menyimpan-nyimpan atau menghitung-hitung (harta yang akan diinfakkan). Apabila mampu, belanjakanlah sebanyak mungkin."
Akhirnya setelah mendengar nasihat ini, Asma ra semakin banyak menyumbangkan hartanya. Ia juga selalu menasehati anak-anak dan perempuan-perempuan yang ada di rumahnya, "Hendaklah kalian selalu meningkatkan diri dalam membelanjakan harta di jalan Allah, jangan menunggu-nunggu kelebihan harta kita dari keperluan-keperluan kita (yaitu jika ada sisa harta setelah dibelanjakan untuk keperluan membeli barang-barang, barulah sisa tersebut disedekahkan.) Jangan kalian berpikir tentang sisanya. Jika kalian selalu menunggu sisanya, sedangkan keperluan kalian bertambah banyak, maka itu tidak akan mencukupi keperluan kalian sehingga kita tidak memiliki kesempatan untuk membelanjakannya di jalan Allah. Jika keperluan itu disumbangkan di jalan Allah, maka kalian tidak akan mengalami kerugian selamanya."
Sumber
muslimuda.com
Khamis, 29 September 2011
Ringkasan Riwayat Hidup Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad
Ringkasan Riwayat Hidup Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad
Beliau bernama Abdullah bin Alawi bin Muhammad bin Ali Al-Tarimi Al-Haddad Al-Husaini Al-Yamani. Beliau (rahimahullah) dilahirkan di Subir sebuah perkampungan berhampiran kota Tarim di Wadi Hadhramaut, selatan negeri Yaman pada hari Ahad 5 haribulan Safar tahun 1044 hijriah bersamaan 30 haribulan Julai tahun 1634 Masehi. Al-Habib telah diasuh dan ditarbiahkan di Kota Tarim. Ketika beliau meningkat umur empat tahun, Al-Habib dijangkiti penyakit cacar yang mengakibatkan kehilangan daya penglihatan. Walaupun demikian, Allah yang Maha Agong lagi Mulia telah menggantikan kepada Al-Habib dengan mata hati (cahaya ilmu dan pengetahuan serta keyakinan dan wilayah). Berasaskan kurniaan ini, Al-Habib telah berusaha dengan penuh dedikasi dan kegigihan menceduk ilmu dari sejumlah besar para ulama’ di Yaman. Cinta beliau terhadap ilmu dan para ulama’ menghasilkan kebolehan menguasai ajaran para ahli tahkik (orang yang mengenali Allah dengan ‘ainul-yakeen serta hakkul-yakeen). Semenjak kecil lagi beliau memaparkan kekuatan usaha ibadat dan kerajinan memuntut ilmu.
Al-Habib pernah berkata “ketika aku masih kecil, aku telah berusaha bersungguh-sungguh untuk beribadat dan melaksanakan pelbagai mujahadah yang lainnya, sehingga ditegur oleh nindaku yang solehah bernama Salma binti Said Al-Wali Omar Ba’Alawi, supaya menjaga diriku. Dia sering berkata demikian jika dikira ibadat serta mujahadah yang aku usahakan dianggap terlalu kuat dan banyak. Sebaliknya aku telah banyak meninggalkan mujahadah semenjak permulaan perjalanan ini semata-mata memelihara hati kedua ibubapaku yang amat prihatin terhadap keadaanku”.
Walaupun Al-Habib (radhiAllahu ‘anhu) sering keluar ke kawasan sekitarnya dan perkampungan di sekeliling Tarim, beliau berkata “aku lebih seronok bersendirian demi kerana Allah kerana alangkah ne’matnya kelazatan (al-uns) bersama dengan Allah”.
Pada permulaan perjalanan hidup Al-Habib, beliau sentiasa menyusuri negerinya untuk bertemu para solihin, menziarahi pusara para ulama’ dan auliya’. Pada masa beliau berada di perkampungannya, beliau sering duduk di sudut ‘Masjid Al-Hijriah’ dan pada waktu malamnya sering bersolat bergiliran di setiap masjid dalam kota Tarim. Sesungguhnya inilah yang membuka hati beliau semenjak kecil lagi. Al-Habib sering membaca Surah Yaasin yang mempengaruhi jiwanya dan menyebabkan beliau menitiskan air mata yang begitu banyak. Keadaan demikian sering mengakibatkan ketidakmampuannya membaca surah yang mulia ini. Inilah yang mendorong Sayyed Abdullah Bilfagih menjelaskan tentang Al-Habib dengan katanya “Disinilah futuh (pembukaan) bagi Al-Habib”
Beliau bernama Abdullah bin Alawi bin Muhammad bin Ali Al-Tarimi Al-Haddad Al-Husaini Al-Yamani. Beliau (rahimahullah) dilahirkan di Subir sebuah perkampungan berhampiran kota Tarim di Wadi Hadhramaut, selatan negeri Yaman pada hari Ahad 5 haribulan Safar tahun 1044 hijriah bersamaan 30 haribulan Julai tahun 1634 Masehi. Al-Habib telah diasuh dan ditarbiahkan di Kota Tarim. Ketika beliau meningkat umur empat tahun, Al-Habib dijangkiti penyakit cacar yang mengakibatkan kehilangan daya penglihatan. Walaupun demikian, Allah yang Maha Agong lagi Mulia telah menggantikan kepada Al-Habib dengan mata hati (cahaya ilmu dan pengetahuan serta keyakinan dan wilayah). Berasaskan kurniaan ini, Al-Habib telah berusaha dengan penuh dedikasi dan kegigihan menceduk ilmu dari sejumlah besar para ulama’ di Yaman. Cinta beliau terhadap ilmu dan para ulama’ menghasilkan kebolehan menguasai ajaran para ahli tahkik (orang yang mengenali Allah dengan ‘ainul-yakeen serta hakkul-yakeen). Semenjak kecil lagi beliau memaparkan kekuatan usaha ibadat dan kerajinan memuntut ilmu.
Al-Habib pernah berkata “ketika aku masih kecil, aku telah berusaha bersungguh-sungguh untuk beribadat dan melaksanakan pelbagai mujahadah yang lainnya, sehingga ditegur oleh nindaku yang solehah bernama Salma binti Said Al-Wali Omar Ba’Alawi, supaya menjaga diriku. Dia sering berkata demikian jika dikira ibadat serta mujahadah yang aku usahakan dianggap terlalu kuat dan banyak. Sebaliknya aku telah banyak meninggalkan mujahadah semenjak permulaan perjalanan ini semata-mata memelihara hati kedua ibubapaku yang amat prihatin terhadap keadaanku”.
Walaupun Al-Habib (radhiAllahu ‘anhu) sering keluar ke kawasan sekitarnya dan perkampungan di sekeliling Tarim, beliau berkata “aku lebih seronok bersendirian demi kerana Allah kerana alangkah ne’matnya kelazatan (al-uns) bersama dengan Allah”.
Pada permulaan perjalanan hidup Al-Habib, beliau sentiasa menyusuri negerinya untuk bertemu para solihin, menziarahi pusara para ulama’ dan auliya’. Pada masa beliau berada di perkampungannya, beliau sering duduk di sudut ‘Masjid Al-Hijriah’ dan pada waktu malamnya sering bersolat bergiliran di setiap masjid dalam kota Tarim. Sesungguhnya inilah yang membuka hati beliau semenjak kecil lagi. Al-Habib sering membaca Surah Yaasin yang mempengaruhi jiwanya dan menyebabkan beliau menitiskan air mata yang begitu banyak. Keadaan demikian sering mengakibatkan ketidakmampuannya membaca surah yang mulia ini. Inilah yang mendorong Sayyed Abdullah Bilfagih menjelaskan tentang Al-Habib dengan katanya “Disinilah futuh (pembukaan) bagi Al-Habib”
Rabu, 28 September 2011
PROGRAM DAN MAJLIS2 SEMPENA PERINGATAN KEWAFATAN IMAM AL-HADDAD
YANG KE-300 TAHUN DI MALAYSIA
Tahun 2001 telah dilangsungkan pertamakalinya secara umum dan rasmi Majlis Haul Imam-Al-Haddad sebagai memperingati peninggalan beliau serta memperkenalkan taburan ilmu bermanfaat dari tokoh ulama yang juga digelar Mujaddid (Penghidup Semula) Islam pada abad yang ke-12 ini. Seterusnya berkembang Majlis2 Haul ini yang secara tetap dilangsungkan pada bulan Dhulqaedah setiap tahun sehingga sekarang yang mana dikelolakan dihampir setiap negeri dimerata Malaysia. Semakin tambah para hadirin dan hadirat yang bersama kami dalam majlis-majlis ini. Yang ketara ialah penambahan hadirin dari luar negara yang secara tidak langsung mendapat berita tentang majlis2 tahunan ini bermotivasikan pengenalan, kecintaan dan manfaat yang dialami dari Imam Al-Haddad sendiri.
InsyaAllah tahun ini, sejumlah 28 majlis-majlis Haul akan dekelolakan di bandar-bandar utama di seluruh Malaysia mulai 29 September 2011 yang akan berakhir dengan Majlis Haul kemuncak pada Sabtu 8 Oktober 2011 di Masjid Sultan Salehuddin Abdul Aziz Shah di Shah Alam mulai jam 5 petang; dengan izin Allah s.w.t. Al-Allamah Al-Habib Abubakr bin Ali Almashoor seorang tokoh ilmu dari kota Aden di Yaman diundang menyampaikan syarahan utama serta memberkati majlis kemuncak ini; selain dari para ulama’ tempatan serata nusantara.
JADUALPROGRAM DAN MAJLIS2 SEMPENA PERINGATAN KEWAFATAN IMAM
JADUALPROGRAM DAN MAJLIS2 SEMPENA PERINGATAN KEWAFATAN IMAM
Tarikh | 29 September, 2011 | 30 September, 2011 | 1 October, 2011 | 2 October, 2011 | 3 October, 2011 | |
Hari | Khamis | Jumaat | Sabtu | Ahad | Isnin | |
Alor Setar (Masjid Al-Bukhary) | Kangar (Masjid Maahad Imam Nawawi, Kg Abi Padang Machang) | Pulau Pinang (Masjid Kapitan Keling) | ||||
Tempat | USJ9 (Masjid Al Falah) | Maran (Masjid Asyakirin) | ||||
atau | Kuala Terengganu (Madrasah Al-Hidayah, Batu Buruk) | Kuala Terengganu (Masjid Putih) | Cukai (Masjid Geliga) | Mersing (Masjid Bandar Mersing) | ||
Bandar | Seremban (Masjid Bandar Baru Senawang) | Batu Pahat (Masjid Sultan) | Johor Baru (Masjid Wadi Hassan) | |||
Miri (Masjid Darul Ehsan) | Kota Kinabalu (Masjid Bandaraya) | |||||
Tarikh | 5 October, 2011 | 6 October, 2011 | 7 October, 2011 | 8 October, 2011 | ||
Hari | Rabu | Khamis | Jumaat | Sabtu | ||
Kota Baru (Masjid Mukim Mulong, Nilam Puri) | Kota Baru (Masjid Salor, Pasir Mas) | Shah Alam (Masjid Sultan Salehuddin Abdul Aziz Shah) | ||||
Tempat | Sandakan (Masjid Datuk Pengiran Galpam, Batu 7) | Tawau (Masjid Habib Abdulrahman Aledrus) | ||||
atau | Melaka (Maahad Baitul Qurra') | Kuala Lumpur (Masjid Baitulaman) | ||||
Bandar | Jenderam (Yayasan Al-jenderami) | Kuala Lumpur (Masjid Al-Bukhary) | Manjung, Perak (Masjid Alang Iskandar, Seri Manjung) | |||
Kuantan (Masjid Sg Karang Darat) | Segamat (Masjid Jamek) | |||||
Tempat dan tarikh sudah dipastikan | ||||||
Program Tambahan Seminar Pengenalan Cara Hidup BaAlawi (Jam 10:00 pg - 12:30 tgh) | ||||||
Tempat dan tarikh sudah dipastikan | ||||||
Peringatan: Dimaklumkan bahawa ada kemungkinan pertukaran berlaku atas sebab2 yang tidak dapat dielakkan | ||||||
Langgan:
Catatan (Atom)


